Cara mengatasi toxic follower ketika anda memimpin.

Toxic Follower adalah seorang individu yang secara sadar dan sengaja menghalangi tujuan organisasi tertentu atau secara keseluruhan, demi keuntungan pribadi, melalui tindakan atau kelambanan mereka. (Michael Boswell, 2016).Toxic Follower ini bikin rungkad tim dan kayak bom waktu dalam tim. Mereka menyebarkan suasana negatif, memicu konflik, dan menghambat kinerja tim dan pasti sebagai pemimpin kamu gak mau ini terjadi di tim.
Kita perlu tau dulu seperti apa sih ciri ciri toxic follower. Kamu bisa nambahin juga jika mau ya. silahkan komen dibawah.
Si Tukang Ngomel dan Cari-cari Salah:
Orang ini kayaknya punya radar negativity bawaan. Semua hal bisa dijadiin bahan omelan dan mereka jago banget ngelihatin kekurangan orang lain. Hobi mereka ngegosip dan bikin suasana jadi tegang.
Bikin Kerja Kelompok Jadi Mimpi Buruk:
Diajak kerjasama kayak ngajak perang. Orang toxic biasanya ogah banget bantuin orang lain dan suka ngelempar tanggung jawab. Kalau dikasih tugas, jangan kaget kalau hasilnya jebol atau malah gak selesai.
Dunianya Sendiri, Bodo Amat Sama Tim:
Pokoknya kepentingan pribadi nomor satu! Mereka ogah ngebantu rekan kerja dan cuma mau ngerjain hal yang menguntungkan dirinya sendiri. Kerja sama tim? Apalah itu?. Kalo ditanya minta bantu tim lain dibilangnya “nggak ada didalam jobdes dan secara kerjaan toh gw udah ngerjain kerjaan gw”.
Jago Manipulasi dan Jago Ngeles:
Kadang mereka ini diberkati sama keahlian menyusun kata kata yang luar biasa, Kalau ketahuan ngelakuin kesalahan, mereka jago banget ngeles dan suka mutar-mutarin fakta. Udah gitu, mereka pinter banget manipulasi orang lain biar kena omelnya.
Si Biang Keributan dan Drama Kantor:
Orang toxic kayaknya hobi banget bikin gosip, ngadu domba, dan memancing pertengkaran. Mereka senang ngelihat suasana kantor yang gak harmonis. Drama, deh!
Aura Negatifnya Nggak Ketolongan:
Orang ini selalu melihat segala sesuatu dari sisi negatif. Udah gitu, mereka suka ngeluarin aura negativity yang bikin semangat kerja orang lain langsung ilang. Kalo ada orang lain yang mau nyemangatin tim mereka akan mudah bilang “toxic positivity banget sih” dan bikin orang lain jadi merasa bersalah.
Sering Melanggar Janji dan Gak Bisa Diandalkan:
Jangan harap deh bisa ngandalin orang toxic. Mereka suka banget terlambat, gak bisa ngejar deadline, dan ngerjain tugas asal-asalan. Susah banget diajak kerjasama!
Ogah Belajar dan sok Tau:
Udah kayak perabot kantor aja, gak pernah mau belajar hal baru dan males berkembang. Mereka merasa paling bener dan gak mau dengerin masukan orang lain. Nggak banget, kan?
Suka Nyalahin Orang Lain:
Jangan harap mereka mau ngakuin kesalahan. Pokoknya orang lain yang salah terus! Mereka gak mau bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.
Kurang Rasa Hormat:
Jangan harap juga mereka akan menghargai rekan kerja yang lain, atasan, atau klien. Mereka bisa bersikap kasar, tidak sopan, dan mungkin hanya akan sopan jika mereka anggap orang tersebut bisa dimanfaatkan kemudian hari.
Nggak Mau Belajar dan Berkembang:
Mereka ini punya banyak alasan untuk menolak belajar hal baru dan mengembangkan diri. Mereka merasa sudah paling benar, paling kompeten dan nggak mau menerima masukan dari orang lain. Kalo diminta untuk ikut pelatihan mereka akan menolak dengan berbagai cara. Dan kalaupun akhirnya ikut pelatihan mereka ogah ogahan untuk belajar dan nggak mau kontribusi dalam sesi pelatihan.
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang jadi toxic follower didalam sebuah tim
Masalah Pribadi:
- Masalah Ketidakpuasan: Bisa jadi pengikut tersebut sedang menghadapi masalah pribadi di luar pekerjaan, seperti masalah keluarga, keuangan, atau kesehatan mental. Ketidakpuasan ini kemudian terbawa ke lingkungan kerja dan mereka menjadi negatif.
- Kurangnya Rasa Percaya Diri: Pengikut yang insecure atau kurang percaya diri terkadang menggunakan perilaku toxic untuk menutupi kekurangan mereka atau mendapatkan perhatian.
- Trauma Masa Lalu: Pengalaman negatif di masa lalu, seperti pengalaman di tempat kerja sebelumnya, bisa membuat seseorang menjadi curiga dan sulit percaya pada orang lain.
Dinamika Kelompok:
- Kurangnya Kepemimpinan yang Tegas: Jika pemimpin tidak bisa menetapkan batasan yang jelas dan menegakkan aturan, hal ini bisa membuat pengikut beracun merasa bebas untuk berperilaku seenaknya.
- Kurangnya Rasa Komunitas: Jika anggota tim merasa terisolasi dan tidak terhubung satu sama lain, ini bisa membuat mereka lebih mudah terpengaruh oleh orang-orang yang toxic.
- budaya kerja yang tidak sehat: Budaya kerja yang kompetitif dan mementingkan pencapaian individual daripada kerjasama tim bisa memicu perilaku toxic.
Kebiasaan dan Kepribadian:
- Kebiasaan Negatif: Seseorang yang terbiasa berpikiran negatif dan mengeluh lebih cenderung menjadi toxic follower.
- Kepribadian Narsistik: Orang dengan kepribadian narsistik cenderung mementingkan diri sendiri, manipulatif, dan kurang empati. Mereka bisa menjadi pengikut yang toxic dan merugikan tim.
- Gangguan Kepribadian Lainnya: Dalam kasus yang lebih serius, perilaku toxic bisa jadi gejala dari gangguan kepribadian tertentu.
Penting dicatat kalo penyebab toxic follower bisa juga kombinasi dari beberapa faktor di atas.
Ada beberapa cara untuk ngatasin masalah toxic follower ini diantaranya:
Kasih batasan yang jelas
Buat aturan yang tegas dan konsisten tentang perilaku yang tidak dapat diterima dalam tim. Komunikasikan aturan tersebut kepada semua anggota tim, termasuk toxic follower. Berikan konsekuensi yang adil dan konsisten bagi mereka yang melanggar aturan.
Ajak ngobrol terbuka
Ajak toxic follower untuk ngobrol empat mata. Dengarkan keluh kesah mereka dengan penuh empati tanpa judgement. Jelaskan secara terbuka dan konstruktif jika perilaku mereka memengaruhi tim. Bantu mereka memahami dampak negatif dari perilaku mereka dan temukan solusi bersama.
Kasih saran yang membangun
Bantu toxic follower mengembangkan keterampilan interpersonal dan komunikasi yang lebih baik. Dorong mereka untuk fokus pada solusi daripada masalah ketika mulai menunjukkan perilaku toxic mereka. Berikan pelatihan dan sumber daya yang dapat membantu mereka menjadi anggota tim yang lebih positif.
Beri Konsekuensi yang Tepat:
Jika toxic follower nggak menunjukkan perubahan setelah beberapa upaya yang udah kamu lakukan, berikan konsekuensi yang sesuai dengan tingkat pelanggaran. Konsekuensi bisa berupa teguran lisan, teguran tertulis, skorsing, atau bahkan pemecatan. Pastikan juga konsekuensi yang diberikan adil, konsisten, dan sesuai dengan kebijakan perusahaan.
Dukung Anggota Tim Lainnya:
Pastikan anggota tim lain merasa dihargai dan didengarkan. Berikan pelatihan tentang cara menghadapi pengikut beracun dan menjaga kesehatan mental. Ciptakan budaya tim yang positif dan suportif. Ini dilakukan agar tim lain tidak terpengaruh secara signifikan ketika menghadapi toxic follower.
Toxic Follower ini seperti tantangan dalam kepemimpinan. Keberhasilan anda sebagai pemimpin teruji ketika anda mampu mengatasi anggota tim yang toxic. Kompetensi anda sebagai seorang pemimpin selain membawa tim anda menuju ke arah yang dituju juga menguragi atau menghilangkan penghambat berjalannya tim karena ada anggota tim yang toxic. Selamat bereksperimen dengan anggota tim anda.
Adang Adha
Organization Behavior Practitioner

